Portal FM – Tangerang, 5 Agustus 2026

Persatuan Merpati Kolong Nusantara (PMKN) resmi mengeluarkan surat edaran terkait insiden yang sempat viral di media sosial setelah perlombaan merpati kolong bebas. Peristiwa tersebut menjadi sorotan karena diduga terjadi tindakan intimidasi serta perlakuan terhadap seekor merpati yang mengakibatkan burung mengalami luka pada bagian capit atau jari kaki.

Dalam surat bernomor 001/SLB/PMKN/2026 dengan perihal Sanksi Larangan Bermain di Putaran Liga PMKN, organisasi menyampaikan keprihatinan atas kejadian tersebut dan menegaskan komitmennya terhadap sportivitas, etika kompetisi, serta kesejahteraan hewan.

PMKN menyatakan bahwa segala bentuk tindakan yang mengandung unsur kekerasan, intimidasi, maupun perilaku yang bertentangan dengan prinsip fair play dan kesejahteraan hewan tidak dapat dibenarkan dalam dunia olahraga merpati kolong.

Sanksi Resmi dari PMKN

Berdasarkan hasil evaluasi dan pertimbangan organisasi, PMKN menjatuhkan sanksi administratif berupa larangan mengikuti seluruh kegiatan perlombaan yang diselenggarakan oleh PMKN kepada:

  • Tim Sembilan Naga (9 Naga)
  • Joki atas nama Tubagus William

Dalam surat tersebut juga disebutkan bahwa masa berlaku sanksi adalah sampai batas waktu yang belum dapat ditentukan.

PMKN Ajak Seluruh Komunitas Menjaga Sportivitas

PMKN berharap keputusan ini dapat menjadi pengingat bagi seluruh peserta, tim, joki, dan komunitas pecinta merpati kolong di Indonesia agar selalu menjunjung tinggi profesionalisme, saling menghormati, serta menciptakan kompetisi yang sehat, aman, dan damai.

Organisasi juga menegaskan bahwa perlindungan terhadap kesejahteraan hewan merupakan bagian penting dalam setiap penyelenggaraan perlombaan.

Menjadi Pelajaran Bersama

Insiden yang melibatkan Dek Umay sebagai pihak yang ramai diperbincangkan di media sosial dan Tim 9 Naga memicu beragam reaksi dari komunitas. Terlepas dari berbagai pendapat yang berkembang, keluarnya surat resmi PMKN menjadi penegasan bahwa organisasi telah mengambil keputusan administratif sesuai hasil evaluasi internalnya.

Ke depan, diharapkan seluruh insan merpati kolong bebas dapat menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran untuk menjaga etika bertanding, mengutamakan sportivitas, serta menghindari tindakan yang berpotensi merugikan sesama peserta maupun hewan yang dilombakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *